Jakarta, 17 September 2026 – Produsen mobil listrik Neta Auto mendapatkan peluang besar untuk keluar dari krisis finansial setelah perusahaan induknya, Hozon New Energy Automobile, memperoleh calon investor strategis dalam proses restrukturisasi. Taiyi Shanglian disebut menyiapkan investasi sekitar 3 miliar yuan untuk mengambil sekitar 70,6 persen saham perusahaan hasil restrukturisasi. Masuknya modal baru tersebut diharapkan menjadi jalan bagi Neta untuk menyelesaikan persoalan keuangan sekaligus menghidupkan kembali kegiatan operasionalnya. Salah satu agenda utama setelah restrukturisasi adalah memulai kembali produksi kendaraan listrik yang sempat terhenti. Perusahaan juga berencana memulihkan jaringan penjualan dan layanan purnajual secara bertahap. Perkembangan ini menjadi titik penting bagi Neta setelah mengalami tekanan keuangan berat sejak 2024.
Hozon New Energy memasuki proses reorganisasi kebangkrutan pada Juni 2025 setelah mengalami masalah arus kas berkepanjangan. Kesulitan tersebut menyebabkan pembayaran gaji karyawan terlambat, pengurangan tenaga kerja dan penghentian sebagian besar aktivitas produksi. Pabrik utama Neta di Tongxiang, Zhejiang, menjadi salah satu fasilitas yang terdampak paling besar oleh kondisi tersebut. Persoalan perusahaan semakin berat karena kewajiban kepada pemasok dan kreditur terus meningkat ketika penjualan kendaraan mengalami penurunan. Kondisi itu membuat perusahaan membutuhkan investor strategis untuk menyediakan modal sekaligus mendukung proses restrukturisasi. Administrator Hozon kemudian membuka proses pencarian investor untuk menyelamatkan perusahaan dari kemungkinan likuidasi.
Proses pencarian investor sebelumnya mendapatkan respons dari puluhan pihak yang menyatakan minat terhadap aset dan bisnis Neta. Dalam perkembangan terbaru, Taiyi Shanglian muncul sebagai pihak yang dipersiapkan mengambil kendali mayoritas perusahaan melalui suntikan dana restrukturisasi. Investasi tersebut akan digunakan untuk membantu penyelesaian kewajiban perusahaan sekaligus menyediakan modal kerja untuk memulai kembali kegiatan bisnis. Setelah transaksi dan proses restrukturisasi diselesaikan, struktur kepemilikan Hozon diperkirakan mengalami perubahan besar. Manajemen baru juga menghadapi tugas memulihkan hubungan dengan pemasok yang sebelumnya terdampak masalah pembayaran. Keberhasilan restrukturisasi akan menentukan seberapa cepat produksi kendaraan Neta dapat kembali berjalan secara normal.
Rencana pemulihan perusahaan menempatkan produksi kendaraan sebagai salah satu prioritas utama. Neta sebelumnya telah menyiapkan langkah untuk mengaktifkan kembali fasilitas Tongxiang yang menjadi basis produksi utama perusahaan di China. Pembayaran gaji penuh kepada sebagian pekerja juga sempat dipulihkan sebagai bagian dari tahap awal normalisasi operasional. Namun, memulai kembali produksi membutuhkan lebih dari sekadar mengaktifkan jalur perakitan karena perusahaan harus membangun kembali rantai pasokan komponen. Hubungan dengan dealer dan jaringan distribusi juga perlu dipulihkan agar kendaraan yang diproduksi dapat kembali dipasarkan secara efektif. Modal baru dari investor strategis diharapkan memberikan kemampuan finansial untuk menjalankan proses tersebut.
Krisis Neta terjadi setelah perusahaan sebelumnya sempat menjadi salah satu produsen kendaraan listrik baru dengan pertumbuhan cepat di China. Pada 2022, penjualan Neta mencapai lebih dari 150 ribu kendaraan dan membuat merek tersebut mampu bersaing dengan sejumlah perusahaan kendaraan listrik lainnya. Namun, persaingan industri otomotif China berkembang semakin ketat ketika banyak produsen meluncurkan kendaraan listrik dengan teknologi lebih maju dan harga kompetitif. Penjualan Neta kemudian mengalami penurunan tajam dalam beberapa tahun berikutnya. Strategi memperluas jajaran produk ke segmen yang lebih tinggi belum mampu menghasilkan pertumbuhan sesuai harapan. Tekanan tersebut akhirnya berdampak terhadap arus kas dan kemampuan perusahaan membayar berbagai kewajibannya.
Restrukturisasi Hozon juga menjadi perhatian bagi konsumen Neta di pasar internasional, termasuk Indonesia. Neta sebelumnya menegaskan proses restrukturisasi perusahaan induk tidak secara langsung mencakup badan usaha luar negeri seperti Neta Auto Indonesia. Perusahaan tetap berupaya mempertahankan layanan purnajual, ketersediaan suku cadang dan pemenuhan garansi kepada konsumen. Namun, produksi lokal Neta di fasilitas PT Handal Indonesia Motor di Bekasi telah dihentikan sementara sejak 2025. Kelanjutan perakitan kendaraan Neta di Indonesia masih menunggu keputusan prinsipal setelah proses pemulihan perusahaan induk semakin jelas. Sebelumnya, Neta V-II dan Neta X menjadi model yang dirakit secara lokal melalui skema completely knocked down.
Pasar Indonesia menjadi salah satu bagian dari strategi ekspansi internasional Neta sebelum perusahaan menghadapi masalah keuangan. Neta mulai memperkuat kehadirannya dengan membangun jaringan penjualan sekaligus melakukan perakitan kendaraan secara lokal. Namun, restrukturisasi perusahaan induk kemudian menyebabkan sejumlah penyesuaian terhadap jaringan dealer dan kegiatan bisnis selama 2026. Neta Indonesia tetap menyatakan komitmen memberikan layanan kepada pemilik kendaraan melalui jaringan purnajual yang tersedia. Keberhasilan pemulihan bisnis di China berpotensi menjadi dasar untuk menentukan langkah perusahaan di Indonesia berikutnya. Meski demikian, belum ada kepastian kapan produksi lokal kendaraan Neta dapat dimulai kembali.
Masuknya investor strategis memberikan kesempatan bagi Neta untuk menghindari berakhirnya bisnis setelah hampir dua tahun menghadapi tekanan finansial. Tantangan berikutnya adalah memastikan dana restrukturisasi dapat digunakan untuk memulihkan produksi, membayar kewajiban serta mengembalikan kepercayaan pemasok, dealer dan konsumen. Persaingan kendaraan listrik di China juga semakin ketat sehingga perusahaan harus memperbarui strategi produk apabila ingin kembali mendapatkan pangsa pasar. Pemulihan produksi menjadi tahap awal, sementara kemampuan menjual kendaraan secara berkelanjutan akan menentukan keberhasilan restrukturisasi dalam jangka panjang. Perkembangan perusahaan induk juga akan menjadi perhatian bagi operasi Neta di berbagai negara, termasuk Indonesia. Jika seluruh proses berjalan sesuai rencana, Neta berpeluang kembali memproduksi kendaraan listrik dan melanjutkan bisnisnya dengan struktur perusahaan yang baru.





