Jakarta, 1 Mei 2026 – Pemandangan penjual koran di sudut-sudut jalan ibu kota kini semakin jarang ditemui. Di Jakarta, profesi yang dulu menjadi bagian dari denyut kehidupan kota perlahan memudar seiring perubahan zaman dan pergeseran konsumsi informasi.
Dahulu, penjual koran menjadi sumber utama masyarakat untuk mendapatkan berita harian. Namun kini, kehadiran internet dan media digital membuat kebiasaan membaca koran cetak semakin berkurang.
Seorang sosiolog menilai fenomena ini sebagai bagian dari transformasi sosial yang tidak terhindarkan. “Perubahan teknologi telah mengubah cara orang mengakses informasi. Profesi seperti penjual koran memang perlahan hilang karena tidak lagi relevan dengan kebutuhan masyarakat modern,” ujarnya.
Perkembangan platform digital, termasuk portal berita online dan media sosial, membuat informasi dapat diakses secara instan melalui ponsel. Hal ini menjadi salah satu faktor utama menurunnya permintaan terhadap koran cetak.
Selain itu, biaya produksi dan distribusi koran yang terus meningkat juga turut memengaruhi keberlangsungan industri media cetak. Banyak perusahaan media kini beralih ke platform digital untuk bertahan di tengah persaingan.
Meski demikian, masih ada sebagian kecil masyarakat yang tetap setia membaca koran cetak, terutama dari kalangan tertentu yang menganggapnya lebih nyaman dan terpercaya.
Para penjual koran yang tersisa pun harus beradaptasi dengan kondisi baru, seperti menjual produk lain atau beralih profesi. Perubahan ini mencerminkan dinamika ekonomi dan sosial yang terus berkembang.
Pengamat budaya menilai bahwa hilangnya penjual koran bukan sekadar perubahan ekonomi, tetapi juga kehilangan bagian dari sejarah dan identitas kota.
Fenomena ini menjadi gambaran nyata bagaimana teknologi dapat mengubah pola hidup masyarakat secara signifikan. Di tengah kemajuan digital, kenangan akan penjual koran tetap menjadi bagian dari perjalanan sejarah kota Jakarta.





