Bekasi, 30 April 2026 – PT Kereta Api Indonesia (Persero) (KAI) menunjukkan komitmennya dalam memberikan dukungan menyeluruh kepada para korban kecelakaan kereta api yang terjadi di wilayah Bekasi. Tidak hanya fokus pada penanganan fisik, KAI kini juga menyediakan layanan psikologis guna membantu korban dan keluarga mengatasi trauma pascakejadian.
Insiden kecelakaan yang melibatkan kereta api tersebut sempat menimbulkan kepanikan dan meninggalkan dampak emosional mendalam bagi para penumpang maupun masyarakat sekitar. Menyadari pentingnya pemulihan mental, KAI bekerja sama dengan tenaga profesional di bidang psikologi untuk menghadirkan layanan konseling yang dapat diakses secara gratis.
Vice President Public Relations KAI menyampaikan bahwa layanan ini merupakan bagian dari tanggung jawab perusahaan dalam memastikan keselamatan dan kesejahteraan penumpang. “Kami memahami bahwa dampak kecelakaan tidak hanya bersifat fisik, tetapi juga psikologis. Oleh karena itu, kami menghadirkan layanan ini sebagai bentuk kepedulian kepada korban dan keluarga,” ujarnya.
Layanan psikologis tersebut meliputi sesi konseling individu, terapi trauma, hingga pendampingan bagi keluarga korban. Para psikolog yang terlibat juga memberikan edukasi mengenai cara menghadapi stres pascatrauma atau yang dikenal sebagai Post-Traumatic Stress Disorder (PTSD), yang berpotensi dialami oleh korban kecelakaan.
Selain itu, KAI juga membuka posko layanan terpadu di lokasi kejadian dan beberapa rumah sakit rujukan di Bekasi. Posko ini tidak hanya memberikan informasi terkait korban, tetapi juga menjadi pusat bantuan psikososial bagi masyarakat yang terdampak.
Sejumlah korban yang telah mengikuti sesi konseling mengaku terbantu dalam mengurangi rasa cemas dan ketakutan. Mereka menyatakan bahwa dukungan psikologis sangat penting untuk membantu mereka kembali menjalani aktivitas sehari-hari.
Pemerintah daerah setempat turut mengapresiasi langkah KAI dalam memberikan perhatian terhadap aspek kesehatan mental korban. Kolaborasi antara KAI, tenaga medis, dan psikolog diharapkan mampu mempercepat proses pemulihan korban secara menyeluruh.
KAI menegaskan bahwa layanan ini akan terus tersedia selama dibutuhkan dan mengimbau para korban maupun keluarga untuk tidak ragu memanfaatkan fasilitas tersebut. Dengan pendekatan yang lebih humanis, KAI berharap para korban dapat pulih tidak hanya secara fisik, tetapi juga mental dan emosional.





