Semarang, 14 September 2026 – Menteri Agama Nasaruddin Umar menyampaikan pesan tegas mengenai pentingnya menerapkan nilai-nilai Al-Qur’an dalam kehidupan nyata saat pelaksanaan Musabaqah Tilawatil Qur’an (MTQ) Nasional XXXI 2026 di Semarang, Jawa Tengah. Menurutnya, kedekatan seseorang dengan Al-Qur’an tidak cukup hanya ditunjukkan melalui kemampuan membaca, menghafal, maupun memahami ayat-ayatnya. Nilai yang terkandung di dalam Al-Qur’an harus tercermin melalui perilaku sehari-hari, termasuk menjauhi praktik korupsi dan berbagai tindakan yang merugikan masyarakat. Ia mengingatkan agar seseorang tidak mengaku dekat dengan Al-Qur’an tetapi pada saat yang sama masih melakukan korupsi. Pesan tersebut menjadi penekanan bahwa kegiatan keagamaan seharusnya menghasilkan perubahan karakter dan integritas. MTQ pun diharapkan tidak berhenti sebagai kompetisi, melainkan menjadi momentum memperkuat nilai kejujuran dalam kehidupan masyarakat.
Nasaruddin menempatkan akhlak sebagai salah satu ukuran penting dalam melihat sejauh mana nilai Al-Qur’an telah diterapkan seseorang. Kemampuan membaca dengan suara indah maupun menghafal banyak ayat mempunyai nilai penting, tetapi hal tersebut harus berjalan bersama dengan perilaku yang baik. Seseorang yang memahami ajaran agama diharapkan mempunyai kesadaran lebih kuat untuk menjaga amanah dan tidak mengambil sesuatu yang bukan menjadi haknya. Prinsip tersebut mempunyai hubungan langsung dengan upaya mencegah korupsi. Perbuatan menyalahgunakan jabatan untuk keuntungan pribadi bertentangan dengan nilai kejujuran, keadilan, dan tanggung jawab. Karena itu, penghayatan terhadap Al-Qur’an semestinya menjadi benteng moral dalam menghadapi berbagai godaan penyalahgunaan kekuasaan.
Pesan tersebut disampaikan dalam momentum MTQ Nasional yang mempertemukan ribuan peserta dari berbagai daerah Indonesia. Sebanyak 2.242 peserta dari 37 provinsi mengikuti kompetisi nasional yang berlangsung di Kota Semarang. Mereka datang setelah melalui proses pembinaan dan seleksi di daerah masing-masing. Para peserta mempertandingkan kemampuan dalam sejumlah cabang yang berkaitan dengan bacaan, hafalan, pemahaman, dan penghayatan terhadap Al-Qur’an. Besarnya jumlah peserta membuat MTQ menjadi salah satu kegiatan keagamaan nasional dengan jangkauan sangat luas. Momentum tersebut dinilai tepat untuk menyampaikan pesan mengenai pentingnya membawa nilai Al-Qur’an keluar dari arena perlombaan menuju kehidupan sehari-hari.
Menurut Nasaruddin, masyarakat perlu menghindari pemisahan antara kesalehan ritual dan tanggung jawab sosial. Seseorang dapat terlihat aktif dalam kegiatan keagamaan, tetapi nilai agama kehilangan makna apabila perilakunya justru merugikan orang lain. Korupsi menjadi salah satu contoh tindakan yang mempunyai dampak luas karena dapat mengurangi sumber daya yang seharusnya digunakan untuk kepentingan masyarakat. Anggaran pendidikan, kesehatan, infrastruktur, dan berbagai pelayanan publik dapat terganggu ketika terjadi penyalahgunaan. Dampaknya kemudian dapat dirasakan masyarakat yang tidak mempunyai hubungan langsung dengan pelaku. Karena itu, sikap antikorupsi dipandang sebagai bagian dari tanggung jawab moral yang harus dibangun bersama.
MTQ juga diharapkan menjadi sarana untuk melahirkan generasi Qurani yang tidak hanya unggul dalam kompetisi. Para peserta, terutama generasi muda, mempunyai kesempatan menjadi teladan setelah kembali ke daerah masing-masing. Prestasi dalam membaca maupun menghafal Al-Qur’an dapat menjadi modal untuk mengajak lingkungan sekitar menerapkan nilai yang terkandung di dalamnya. Keteladanan tersebut dapat dimulai melalui hal sederhana seperti berkata jujur, menepati janji, menghormati hak orang lain, dan menjalankan tanggung jawab. Ketika mendapatkan amanah yang lebih besar, prinsip yang sama harus tetap dipertahankan. Dengan demikian, pembinaan Al-Qur’an mempunyai dampak terhadap pembentukan karakter masyarakat dalam jangka panjang.
Penyelenggaraan MTQ Nasional XXXI mengusung semangat menjadikan Al-Qur’an sebagai sumber nilai dalam membangun kehidupan yang harmonis dan berkeadaban. Kompetisi menjadi salah satu instrumen untuk meningkatkan minat masyarakat dalam mempelajari kitab suci. Namun, tujuan yang lebih luas adalah membuat kandungan Al-Qur’an semakin dipahami dan diterapkan. Nasaruddin mengingatkan bahwa kualitas hubungan dengan kitab suci tidak semestinya hanya dinilai dari aspek yang terlihat. Sikap ketika menghadapi uang, jabatan, kekuasaan, dan kepentingan pribadi juga menjadi ujian penting. Integritas justru terlihat ketika seseorang mempunyai kesempatan melakukan penyimpangan tetapi memilih mempertahankan kejujuran.
Pesan mengenai korupsi juga relevan bagi aparatur dan pejabat yang memegang tanggung jawab pelayanan publik. Jabatan merupakan amanah yang membawa kewajiban mengelola kewenangan untuk kepentingan masyarakat. Ketika kewenangan digunakan untuk mendapatkan keuntungan pribadi, kepercayaan publik dapat mengalami kerusakan. Kerugian yang ditimbulkan bahkan dapat berlangsung jauh setelah sebuah perkara selesai ditangani. Karena itu, pencegahan korupsi tidak cukup hanya mengandalkan ancaman hukuman. Pembentukan karakter, pendidikan moral, transparansi, dan pengawasan perlu berjalan secara bersamaan agar peluang penyimpangan dapat ditekan.
Lingkungan keluarga dan pendidikan juga mempunyai peranan dalam menanamkan integritas sejak usia dini. Anak-anak dapat diperkenalkan dengan nilai kejujuran melalui kehidupan sehari-hari sebelum memahami persoalan korupsi dalam konteks yang lebih luas. Kebiasaan tidak mengambil milik orang lain, mengakui kesalahan, dan menjalankan tanggung jawab menjadi fondasi penting. Pendidikan agama dapat memperkuat nilai tersebut dengan memberikan pemahaman mengenai konsekuensi moral dari setiap tindakan. Sekolah dan lembaga pendidikan keagamaan mempunyai kesempatan besar membangun budaya tersebut. Jika dilakukan secara konsisten, pendidikan antikorupsi tidak hanya menjadi materi pembelajaran, tetapi berkembang menjadi kebiasaan.
Bagi peserta MTQ, kompetisi juga menjadi tempat menguji kejujuran dan sportivitas. Setiap peserta diharapkan menerima hasil penilaian dengan sikap yang baik serta menghormati peserta lainnya. Kemenangan tidak semestinya menjadi satu-satunya tujuan karena pengalaman dan proses pembelajaran mempunyai nilai yang sama pentingnya. Dewan hakim juga memegang tanggung jawab besar untuk menjaga objektivitas dalam memberikan penilaian. Integritas penyelenggaraan menjadi bagian dari penerapan nilai yang ingin disampaikan melalui kegiatan tersebut. Dengan demikian, pesan tentang kejujuran dapat langsung diwujudkan sejak proses kompetisi berlangsung.
Nasaruddin juga mendorong agar semangat mencintai Al-Qur’an tidak berhenti setelah MTQ selesai. Peserta yang kembali ke daerah masing-masing diharapkan tetap melanjutkan pembelajaran sekaligus berbagi pengetahuan dengan masyarakat. Masjid, sekolah, pesantren, dan berbagai lembaga keagamaan dapat menjadi ruang untuk memperluas pembinaan. Masyarakat juga dapat mengambil bagian dengan menciptakan lingkungan yang mendukung generasi muda mempelajari Al-Qur’an. Namun, keberhasilan pembinaan pada akhirnya perlu terlihat melalui perubahan perilaku. Semakin banyak orang memahami nilai kejujuran dan tanggung jawab, semakin kuat pula fondasi moral dalam kehidupan sosial.
Pemberantasan korupsi membutuhkan keterlibatan banyak pihak karena persoalan tersebut tidak dapat diselesaikan hanya melalui penindakan. Pencegahan perlu dimulai dari sistem pemerintahan yang transparan hingga pembentukan kesadaran individu. Nilai agama dapat memberikan dasar moral agar seseorang memahami bahwa penyalahgunaan kewenangan bukan hanya persoalan hukum, tetapi juga menyangkut tanggung jawab terhadap masyarakat. Dalam konteks tersebut, pesan Menag di MTQ mempunyai arti yang lebih luas daripada sekadar nasihat kepada peserta. Pesan tersebut ditujukan untuk mendorong masyarakat menjadikan nilai yang diyakini sebagai pedoman ketika menghadapi kepentingan pribadi. Kejujuran kemudian harus tetap dipertahankan meskipun tidak ada orang lain yang melihat.
Pesan tegas Nasaruddin Umar pada MTQ Nasional XXXI 2026 pada akhirnya menekankan bahwa kedekatan dengan Al-Qur’an harus dibuktikan melalui tindakan. Kemampuan tilawah, hafalan, dan pemahaman mempunyai arti besar apabila diikuti akhlak yang mencerminkan kejujuran, keadilan, dan tanggung jawab. Korupsi menjadi contoh nyata perilaku yang bertentangan dengan nilai tersebut karena merugikan masyarakat dan merusak kepercayaan. MTQ karena itu diharapkan menjadi momentum untuk membangun generasi yang tidak hanya mempunyai kemampuan keagamaan, tetapi juga integritas kuat. Para peserta dapat membawa semangat tersebut kembali ke lingkungan masing-masing setelah kompetisi selesai. Dengan penerapan nilai Al-Qur’an dalam kehidupan nyata, pesan yang disampaikan melalui MTQ dapat memberikan manfaat jauh melampaui kemenangan dan penghargaan di arena perlombaan.





