Jakarta, 7 September 2026 – Presiden Amerika Serikat Donald Trump kembali memicu perdebatan setelah membagikan peta negara bagian New Mexico dengan nama yang diubah menjadi “New America”. Gambar tersebut diunggah melalui akun Truth Social miliknya pada Minggu, 6 September 2026. Dalam peta itu, tulisan “New Mexico” tetap terlihat, tetapi kata “Mexico” dicoret menggunakan tanda berwarna merah dan digantikan dengan kata “America”. Hasilnya, nama negara bagian yang berada di wilayah barat daya Amerika Serikat tersebut terlihat menjadi “New America”. Trump tidak memberikan penjelasan panjang mengenai maksud unggahan tersebut maupun apakah dirinya benar-benar akan mendorong perubahan nama secara formal. Gedung Putih kemudian ikut membagikan kembali gambar tersebut melalui akun resminya di platform X. Hingga kini, belum ada proses resmi untuk mengganti nama negara bagian New Mexico.
Unggahan tersebut segera mendapatkan perhatian karena Trump sebelumnya telah beberapa kali mendorong perubahan nama geografis selama periode keduanya sebagai presiden. Pada awal masa pemerintahannya pada Januari 2025, Trump mengeluarkan perintah eksekutif yang mengarahkan pemerintah federal menggunakan nama “Gulf of America” untuk Gulf of Mexico. Pemerintahannya juga mengembalikan nama Denali di Alaska menjadi Mount McKinley. Langkah terbaru dilakukan pada akhir Agustus 2026 ketika Trump menandatangani perintah untuk mengubah penyebutan Lake Ontario menjadi “Lake America” dalam penggunaan pemerintah federal. Perubahan terakhir tersebut muncul di tengah meningkatnya ketegangan perdagangan antara Amerika Serikat dan Kanada. Karena rekam jejak tersebut, unggahan mengenai New Mexico kemudian memunculkan pertanyaan apakah Trump sedang mempertimbangkan perubahan nama berikutnya. Namun, mekanisme perubahan nama sebuah negara bagian berbeda secara mendasar dengan perubahan nama bentang alam.
Trump tidak mempunyai kewenangan konstitusional untuk secara sepihak mengganti nama sebuah negara bagian hanya melalui perintah eksekutif. Presiden dapat mengarahkan pemerintah federal mengenai penggunaan nama tertentu untuk berbagai fitur geografis yang tercatat dalam sistem pemerintah. Namun, nama negara bagian berkaitan langsung dengan konstitusi, hukum, dan identitas pemerintahan negara bagian itu sendiri. Proses perubahan nama kemungkinan membutuhkan keterlibatan pemerintah serta legislatif negara bagian dan kemudian tindakan di tingkat federal. Karena itu, unggahan Trump di media sosial tidak otomatis membuat New Mexico berubah menjadi New America. Pemerintah federal juga belum mengumumkan prosedur administratif atau legislasi untuk menjalankan gagasan tersebut. Hingga Senin, New Mexico tetap menjadi nama resmi negara bagian tersebut. Peta yang dibagikan Trump untuk sementara dipandang sebagai usulan atau isyarat politik, bukan keputusan hukum.
Gubernur New Mexico Michelle Lujan Grisham langsung memberikan tanggapan terhadap unggahan tersebut. Ia menegaskan nama New Mexico tidak sedang menjadi sesuatu yang dapat diperdebatkan atau diganti begitu saja. Grisham mengingatkan bahwa identitas New Mexico telah ada bahkan sebelum berdirinya Amerika Serikat. Ia juga menilai pemerintah federal seharusnya lebih memusatkan perhatian pada persoalan yang secara langsung memengaruhi kehidupan masyarakat. Tanggapan serupa disampaikan sejumlah anggota delegasi Kongres yang mewakili New Mexico. Senator Martin Heinrich menegaskan dirinya akan tetap menggunakan nama New Mexico bersama penyebutan historis Gulf of Mexico dan Lake Ontario. Penolakan tersebut menunjukkan gagasan yang ditampilkan Trump kemungkinan menghadapi hambatan politik besar apabila benar-benar hendak diteruskan menjadi proses formal.
Anggota DPR Amerika Serikat dari New Mexico Melanie Stansbury juga menyampaikan penolakan keras terhadap kemungkinan perubahan nama tersebut. Menurutnya, nama New Mexico membawa sejarah, kebudayaan, dan identitas keluarga yang telah berkembang selama banyak generasi. Identitas itu dinilai tidak dapat dipisahkan hanya karena terdapat kata “Mexico” dalam nama negara bagian. New Mexico mempunyai karakter budaya yang kuat karena perjalanan panjang masyarakat pribumi, pengaruh Spanyol, Meksiko, serta perkembangan wilayah setelah menjadi bagian Amerika Serikat. Sejumlah pejabat lokal menilai perubahan nama akan mengabaikan lapisan sejarah tersebut. Perdebatan juga tidak semata-mata berkaitan dengan persoalan administratif, melainkan menyentuh identitas masyarakat yang menyebut diri mereka New Mexicans. Karena itu, respons terhadap unggahan Trump berkembang cepat di media sosial maupun dalam pernyataan politik.
Nama New Mexico sendiri jauh lebih tua daripada statusnya sebagai negara bagian Amerika Serikat. Sebutan “Nuevo México” telah digunakan penjelajah Spanyol sejak akhir abad ke-16 untuk menggambarkan wilayah tersebut. Penggunaan nama itu berlangsung jauh sebelum Amerika Serikat berdiri pada 1776. Wilayah tersebut kemudian menjadi bagian Amerika Serikat pada abad ke-19 setelah perubahan kekuasaan dan wilayah di kawasan Amerika Utara. New Mexico akhirnya diterima sebagai negara bagian Amerika Serikat pada 6 Januari 1912. Dengan sejarah selama berabad-abad, nama New Mexico telah melekat pada identitas geografis, politik, sosial, dan budaya wilayah tersebut. Fakta sejarah itu menjadi salah satu alasan utama sejumlah pejabat negara bagian menolak gagasan perubahan menjadi New America.
Perdebatan terbaru juga muncul tidak lama setelah beredar klaim bahwa Trump telah menandatangani perintah eksekutif untuk mengganti nama New Mexico. Klaim tersebut sebelumnya dinyatakan tidak benar dan diketahui berkembang dari konten satire di media sosial. Tidak ditemukan dokumen resmi Gedung Putih yang menunjukkan adanya perintah eksekutif semacam itu. Namun, situasinya berubah ketika Trump sendiri benar-benar membagikan gambar peta yang mengganti kata Mexico dengan America pada 6 September. Perbedaan tersebut penting karena unggahan terbaru merupakan tindakan nyata dari akun Trump, tetapi tetap tidak sama dengan keputusan resmi pemerintah. Gambar itu hanya menunjukkan gagasan perubahan nama tanpa dokumen hukum yang menyertainya. Dengan demikian, klaim bahwa New Mexico secara resmi telah berganti nama menjadi New America masih tidak tepat.
Langkah Trump juga memperpanjang kontroversi mengenai perubahan nama geografis yang dilakukan pemerintahannya. Setelah kembali ke Gedung Putih, Trump menggunakan isu penamaan sebagai bagian dari kebijakan yang menurutnya mencerminkan kebanggaan nasional Amerika Serikat. Perubahan Gulf of Mexico menjadi Gulf of America untuk penggunaan federal menjadi salah satu keputusan yang paling banyak mendapat perhatian internasional. Pada Agustus 2026, ia kemudian mengarahkan perubahan penyebutan Lake Ontario menjadi Lake America di lingkungan pemerintah federal. Sejumlah perusahaan teknologi menyesuaikan tampilan peta untuk pengguna di Amerika Serikat setelah perubahan tersebut. Namun, beberapa penyedia layanan pemetaan memilih mempertahankan nama yang telah lama digunakan. Perbedaan respons itu menunjukkan perubahan yang dilakukan pemerintah Amerika Serikat tidak otomatis mengikat perusahaan swasta, negara lain, maupun organisasi internasional.
Perubahan nama sebuah negara bagian akan menghadirkan persoalan yang jauh lebih kompleks dibandingkan penggantian nama danau atau teluk. Nama New Mexico tercantum dalam berbagai dokumen hukum, konstitusi negara bagian, lembaga pemerintahan, identitas kependudukan, dokumen bisnis, sistem pendidikan, hingga berbagai catatan federal. Perubahan formal akan membutuhkan penyesuaian administratif yang sangat luas. Selain itu, pemerintah negara bagian mempunyai kepentingan langsung dalam menentukan identitas dan penyelenggaraan pemerintahannya. Komposisi politik New Mexico saat ini juga membuat kemungkinan mendapatkan dukungan lokal terhadap gagasan Trump relatif kecil. Gubernur serta sejumlah anggota delegasi kongres negara bagian telah menyampaikan penolakan terhadap wacana tersebut. Tanpa dukungan dari New Mexico sendiri, gagasan perubahan nama diperkirakan akan menghadapi tantangan politik dan hukum yang besar.
Untuk saat ini, unggahan Trump lebih tepat dipandang sebagai sinyal atau gagasan mengenai perubahan nama daripada keputusan resmi untuk menjadikan New Mexico sebagai New America. Gedung Putih memang ikut memperkuat perhatian terhadap gagasan tersebut dengan membagikan kembali peta yang diunggah Trump. Namun, belum ada pengumuman mengenai rancangan undang-undang, proses formal di tingkat negara bagian, ataupun langkah administratif yang dapat mengubah status hukum nama New Mexico. Penolakan dari pejabat negara bagian juga muncul hanya beberapa jam setelah gambar tersebut beredar. Perdebatan kemungkinan masih berlanjut mengingat Trump sebelumnya berhasil mendorong perubahan penyebutan beberapa fitur geografis untuk penggunaan pemerintah federal. Meski demikian, kewenangan presiden terhadap nama sebuah negara bagian jauh lebih terbatas. Sampai terdapat proses hukum dan politik yang sah, wilayah tersebut tetap secara resmi bernama New Mexico dan penyebutan “New America” belum mempunyai kedudukan hukum.






