Jakarta, 7 September 2026 – Kebakaran hutan dan lahan melanda kawasan pengembangan Ibu Kota Nusantara (IKN) di Kalimantan Timur dengan luas terdampak mencapai sekitar 458 hektare. Area kebakaran terbesar berada di kawasan Taman Hutan Raya Bukit Soeharto yang secara administratif mencakup wilayah Kabupaten Kutai Kartanegara dan Kabupaten Penajam Paser Utara. Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) memastikan proses pemadaman masih berlangsung hingga Senin, 7 September 2026. Tim gabungan dikerahkan melalui operasi darat dan udara untuk mencegah api semakin meluas. Meski berada dalam kawasan pengembangan IKN, lokasi kebakaran sejauh ini belum dilaporkan mengancam langsung Kawasan Inti Pusat Pemerintahan (KIPP).
Kepala BNPB Letjen TNI Suharyanto menyampaikan perkembangan tersebut dalam rapat penanganan bencana bersama Presiden Prabowo Subianto. Ia menjelaskan kebakaran di Bukit Soeharto menjadi salah satu titik yang saat ini mendapatkan perhatian khusus pemerintah. Luas lahan yang terdampak mencapai 458 hektare dan proses pemadaman belum sepenuhnya selesai. BNPB telah memberikan dukungan dengan mengerahkan satuan tugas darat ke lokasi kebakaran. Helikopter water bombing juga digunakan untuk menjangkau titik-titik api yang sulit ditangani hanya melalui jalur darat.
Mendengar laporan tersebut, Presiden Prabowo Subianto meminta seluruh jajaran memberikan perhatian lebih besar terhadap kebakaran yang terjadi dekat kawasan IKN. Presiden secara khusus menekankan agar api tidak sampai merambat menuju zona inti pusat pemerintahan. Apabila dibutuhkan, aset dan personel tambahan diminta segera dikerahkan untuk memperkuat operasi pemadaman. Pencegahan perlu dilakukan sebelum kebakaran semakin mendekati kawasan strategis tersebut. Pemerintah tidak ingin perluasan api kemudian mengganggu aktivitas maupun pembangunan yang berlangsung di Nusantara.
Meski luas kebakaran mencapai ratusan hektare, area terdampak tidak seluruhnya berada di kawasan inti pemerintahan IKN. Sebagian besar kebakaran tercatat di kawasan hutan Tahura Bukit Soeharto, sementara titik lainnya terpantau di sekitar Sepaku dan wilayah perbatasan IKN. Pemantauan terakhir menunjukkan api belum memberikan ancaman langsung terhadap kegiatan pembangunan di kawasan inti. Namun, kondisi tersebut tetap membutuhkan kewaspadaan karena perubahan angin dan cuaca dapat memengaruhi arah pergerakan api. Patroli serta pemantauan titik panas karena itu terus dilakukan untuk mendeteksi potensi perluasan kebakaran sedini mungkin.
Penanganan karhutla melibatkan BNPB, Otorita IKN, pemerintah daerah, TNI, Polri, serta berbagai instansi terkait. Tim darat melakukan pemadaman langsung sekaligus patroli pada kawasan yang masih memungkinkan dijangkau. Sementara untuk daerah dengan medan sulit, dukungan udara menjadi salah satu pilihan untuk mempercepat pengendalian api. Pemantauan juga dilakukan menggunakan data titik panas dan teknologi udara untuk menentukan lokasi yang membutuhkan penanganan prioritas. Strategi tersebut diperlukan karena luas kawasan hutan membuat pemadaman tidak dapat hanya mengandalkan satu metode.
Operasi modifikasi cuaca juga menjadi bagian dari langkah pemerintah mengantisipasi kekeringan dan karhutla di sekitar IKN. Pelaksanaannya melibatkan BMKG, Otorita IKN, TNI Angkatan Udara, BNPB, dan Pemerintah Provinsi Kalimantan Timur. Modifikasi cuaca dilakukan dengan memanfaatkan keberadaan awan yang memenuhi persyaratan untuk meningkatkan peluang terjadinya hujan. Namun, pelaksanaannya sangat bergantung pada kondisi atmosfer dan ketersediaan awan potensial. Karena itu, operasi udara tersebut tetap berjalan beriringan dengan pemadaman darat dan water bombing.
Ancaman karhutla di sekitar IKN sebenarnya telah menjadi perhatian sejak beberapa pekan terakhir. Data BPBD Kalimantan Timur hingga 24 Agustus 2026 sebelumnya mencatat sebanyak 470 kejadian karhutla dengan luas terdampak sekitar 1.393,78 hektare di berbagai wilayah provinsi tersebut. Kutai Kartanegara tercatat mengalami 49 kejadian dengan luas sekitar 440,88 hektare, sementara Penajam Paser Utara mencatat 42 kejadian dengan luas sekitar 41,07 hektare. Peningkatan kejadian terutama terlihat sepanjang Juli dan Agustus ketika kondisi cuaca semakin kering. Situasi tersebut membuat kawasan penyangga IKN ikut mendapatkan pengawasan lebih ketat.
Karhutla di sekitar IKN juga berlangsung ketika sejumlah wilayah Indonesia masih menghadapi kebakaran hutan dan lahan. BNPB mencatat kebakaran pada lahan gambut masih ditemukan di Kalimantan Barat, Riau, Kalimantan Selatan, Kalimantan Tengah, Sumatera Selatan, dan Jambi. Secara keseluruhan, sekitar 72.008 hektare lahan gambut tercatat terdampak kebakaran, dengan 71.274,29 hektare telah berhasil dipadamkan. Sekitar 734,81 hektare lainnya masih dalam proses penanganan. Pemadaman lahan gambut membutuhkan perhatian khusus karena api dapat bertahan di bawah permukaan dan kembali muncul meskipun bagian atasnya terlihat sudah padam.
Selain IKN, kebakaran juga dilaporkan terjadi di sejumlah kawasan lain. BNPB mencatat kebakaran sekitar 223,5 hektare di Teluk Bintuni, Papua Barat, yang sebagian besar telah berhasil ditangani. Kebakaran lainnya terjadi di kawasan Gunung Butak, Jawa Timur, dengan luas sekitar 16,5 hektare, serta kawasan Gunung Ijen sekitar 2,5 hektare. Pemerintah juga masih menangani kebakaran di Tempat Pembuangan Akhir Putri Cempo, Solo, yang mencapai sekitar 4,6 hektare. Perbedaan karakter lahan membuat metode dan tingkat kesulitan pemadaman pada masing-masing wilayah tidak sama.
Pemerintah kini memprioritaskan pengendalian kebakaran 458 hektare di kawasan IKN agar tidak berkembang menuju zona yang lebih strategis. Arahan Presiden Prabowo untuk mengerahkan aset tambahan menunjukkan pemerintah ingin penanganan dilakukan secara maksimal sebelum api semakin meluas. Patroli darat dan udara, pemantauan titik panas, water bombing, hingga modifikasi cuaca akan terus digunakan sesuai perkembangan kondisi lapangan. Pemerintah juga masih melakukan pendataan untuk mengetahui dampak serta kerugian akibat kebakaran secara lebih lengkap. Selama kondisi kemarau masih berlangsung, pengawasan terhadap kawasan hutan di sekitar Nusantara akan menjadi bagian penting untuk menjaga keselamatan kawasan inti IKN sekaligus mencegah kebakaran baru.




